Bacaan yang paling kusukai tuh emang bacaan fiksi, kayak novel gitulah. Cuma, nggak banyak author yang kuikuti.
Salah satu dari sedikit itu, berasal dari teman-teman blogger, Mbak Mutia Ramadhani. Aku baru kelar baca yang judulnya Ada Cinta di Suaka Paksi.
Itupun karena tertarik sehabis baca tulisan mbak Annie Nugraha pas blogwalking beberapa waktu lalu.
Aku belinya di Shopee. Mbak Mutia Ramadhani yang rekomendasikan toko online penerbitnya di marketplace oren itu. Kalau kalian mau memeluk novelnya juga, ntar aku taruh link produknya di akhir artikel ya.
Siapa tahu kalian juga suka ceritanya. Soalnya, menurutku nggak hanya premisnya yang unik, tapi aku yakin kalian juga jarang ketemu sama novel romance Indonesia yang latarnya tentang konservasi.
Jadi, tunggu apa lagi? Yuk gaskeun baca tulisanku tentang buku solo keempat dari ibu tiga anak ini!
Sekilas Tentang Ada Cinta di Suaka Paksi

Novel ini berkisah tentang Fiora, seorang perempuan yang punya kemampuan unik bernama vegeto-zoomensi. Kemampuan ini bikin dia bisa berkomunikasi dengan tumbuhan dan hewan.
Sayangnya, kemampuan itu juga yang bikin hidupnya nggak selalu mudah. Kayaknya, cenderung sulit. Terutama, di masa awal dia menyadari kemampuan tersebut.
Banyak orang menganggapnya aneh. Selain itu, ia nggak bisa bertahan terlalu lama jauh dari alam. Batas maksimal yang masih bisa ditoleransinya adalah sekitar sepuluh jam.
Karena itulah, Fiora merasa nyaman bekerja di Suaka Paksi, sebuah tempat yang sangat dekat dengan dunia konservasi satwa.
Apalagi, di sana ia juga bertemu dengan Gandi, sosok yang nggak banyak bicara tapi mampu memahami Fiora dengan caranya sendiri.
Di saat yang sama, kehidupan Fiora juga kembali terusik oleh kehadiran Sangga, CEO muda a.k.a mantan kekasih yang masih berharap bisa kembali bersamanya.
Klasik sih emang. Tapi, percaya sama aku! Saat kalian baca novelnya, kalian akan merasa kalau interaksi mantan yang masih pingin balikan tuh tampak realistis.
Sementara itu, Gandi juga punya cerita yang nggak kalah rumit. Layaknya tokoh utama di novel romance lain, dia juga punya sosok yang mengidolakannya. Yang bahkan rela mengejarnya studi ke Belanda.
Dari sinopsisnya, mungkin banyak orang akan mengira ini adalah novel cinta segitiga biasa. Aku juga sempat mikir begitu.
Namun, ternyata cerita ini menawarkan lebih banyak hal yang menarik.
Fiora, Tokoh yang Bikin Cerita Ini Terasa Beda
Salah satu hal yang langsung menarik perhatianku adalah karakter Fiora. Wajar. Namanya juga tokoh utama.
Tapi, yang bikin menarik tuh karena kemampuannya berkomunikasi sama hewan dan tumbuhan.
Anehnya, selama membaca novelnya, aku nggak merasa kemampuan itu dibuat berlebihan. Yang seolah cuma biar tokohnya kelihatan spesial doang. Nggak sama sekali ya, Teman Journaling-ku.
Aku malah merasa kalau kemampuan itu sangat menyatu sama karakter Fiora. Sehingga, aku bisa paham kenapa dia jadi begitu dekat sama alam.
Makanya, aku juga nggak heran kenapa bekerja di Suaka Paksi jadi pilihan yang masuk akal baginya.
Yang paling membuatku merasa lucu pas doi cemburu sama emaknya Gandi. Beliau nih tipe working mom yang masih kelihatan muda dan cantik gitu lho.
Meski pada akhirnya, Mas Gandi menjelaskan dan berakhir Fiora malah kerja bareng camer. Ceileh.
Overall, aku merasa kemampuan itu bukan cuma pemanis cerita. Tapi, termasuk jadi bagian penting yang membentuk cara kita menilai tokoh Fiora.
Romansa yang Hadir Sewajarnya

Kalau ditanya apakah ada kisah cinta dalam novel ini? Tentu saja ada. Namanya juga novel romance, ya ‘kan!
Di sini, kalian pasti ketemu sama Gandi, sosok pendiam yang diam-diam naksir Fiora. Gimana dia approach ke tuh cewek. Meskipun doi nggak pinter mengumbar kata-kata manis.
Begitu juga reaksi Fiora. Alamak. Membaca novel ini, aku jadi bayangin kisah masa lalu di perusahaan perkebunan kelapa sawitlah, woi.
Sejauh ini, Gandi tuh karakter cowok yang kusukai. Nggak banyak bicara, tapi semua tindakannya menunjukkan perhatian.
Di sisi lain, kehadiran Sangga sebagai mantan yang masih ingin balikan juga memberikan dinamika tersendiri dalam cerita.
Tapi, please! Jangan membayangkan mantan yang mengejar gila-gilaan kayak di DraChin ya! Nggak ada sama sekali di sini.
Belum lagi, kisah junior yang naksir Gandi sampai mengejarnya ke Belanda. Tipe cewek kaya yang berusaha mengisi kekosongan di kala cowoknya lagi jauhan dari pacar gitu lho.
Intinya, aku merasa semua konflik romantis itu hadir untuk memperkaya cerita, tapi nggak sampai yang mengambil alih seluruh panggung gitu lho. Paham ‘kan maksudnya?
Dunia Konservasi yang Terasa Hidup
Kalau ada satu alasan utama kenapa aku begitu menikmati saat membaca novel Ada Cinta di Suaka Paksi, jawabannya ada di bagian ini.
Aku berpikir dunia konservasinya terasa hidup. Kayak, gampang banget buatku untuk bikin visualisasinya dalam imajinasi.
Aku ‘kan sering tuh ya membaca novel, entah versi fisiknya atau online di aplikasi menulis novel. Ini juga salah satu alasan kenapa aku nggak banyak mengikuti penulis novel.
Banyak dari mereka, khususnya novel online, yang pakai profesi atau latar tertentu hanya sebagai dekorasi.
Kayak, iya sih emang tokohnya bekerja di bidang tertentu. Tapi, pekerjaan itu nyaris nggak ada pengaruhnya dalam jalan cerita.
Kasarannya, tokohnya diceritakan punya pekerjaan di bidang tertentu. Tapi, jalan ceritanya kayak menggambarkan itu tokoh malah jadi pengangguran.
Tapi, tenang saja, Sahabat Cerita-ku! Di novel ini kalian nggak akan ketemu hal yang kayak begitu.
Konservasi burung benar-benar jadi bagian penting dari cerita.
Kayak, aku bisa mengikuti gimana proses rehabilitasi raptor berlangsung. Dalam novel ini, burung yang cukup banyak dibahas adalah elang.
Sebagai orang yang sebelumnya nggak terlalu paham sama dunia rehabilitasi burung pemangsa, aku justru merasa kayak dapat pengalaman baru gitu deh.
Yang kusukai, semua informasi tersebut disampaikan secara alami melalui alur cerita. Aku nggak merasa lagi membaca buku pelajaran sedikitpun.
Aku juga nggak merasa lagi diberi ceramah tentang konservasi.
Malah, aku kayak merasa lagi ikut mendampingi para tokohnya bekerja. Keren dah.
Mungkin itulah alasan kenapa setelah kelar membaca, kesan yang tertinggal di kepalaku bukan cuma soal kisah cinta Fiora dan Gandi.
Aku justru teringat sama elang-elang yang lagi menjalani proses rehabilitasi. Bonsai lagi pedekate, dan teman-teman tanaman Fiora dan Gandi yang lain.
Dari Suaka Paksi hingga Belanda
Hal lain yang bikin aku semakin menikmati novel ini adalah setting ceritanya.
Bukan hanya Suaka Paksi yang terasa hidup, tapi juga bagian saat Gandi melanjutkan studi ke Belanda.
Biasanya, ada novel yang menyebut tokohnya kuliah di luar negeri tanpa benar-benar menunjukkan kayak apa sih kehidupannya di sana.
Di sini aku justru bisa membayangkan semua aktivitas yang dijalani Gandi.
Mulai dari pertemuan PPI, diskusi dengan sesama mahasiswa, hingga suasana taman atau kafe tempat mereka menghabiskan waktu.
Detail-detail kecil kayak gini mungkin kelihatan sepele. Tapi, aku merasa justru detail itulah yang bikin setting cerita terasa nyata.
Aku bukan cuma merasa lagi membaca lokasi yang disebutkan sepintas lalu. Tapi, aku merasa kayak benar-benar diajak berkunjung ke sana.
Lebay ah, Yun!
Beneran lho! Kalau nggak percaya, coba deh beli novelnya dan baca sampai kelar! Kalian pasti juga bisa merasakan apa yang kurasa.
Ingat! Link pembelian novelnya udah kusematkan di akhir artikel.
Ketika Pengalaman Penulis Bikin Ceritanya Terasa Makin Nyata
Setelah mengetahui latar belakang Mutia Ramadhani, aku jadi semakin paham kenapa detail-detail dalam novel ini terasa begitu alami.
Soalnya, Mutia Ramadhani merupakan rimbawan lulusan Fakultas Kehutanan IPB dengan spesialisasi konservasi dan ekosistem. Kurang menjiwai apa dia saat menulis novel ini?
Sudah gitu, sejak masa kuliah, beliau aktif sebagai pemerhati burung di KPB Perenjak HIMAKOVA dan sudah menjelajahi berbagai kawasan konservasi di Indonesia.
Menurutku, pengalaman inilah yang bikin dunia dalam Ada Cinta di Suaka Paksi terasa makin hidup.
Dan sebagai pembaca, menurutku pengalaman kayak gini selalu terasa menyenangkan.
Ada Cinta di Suaka Paksi, Rasanya Kayak Ikut Melepas-liarkan Aruna dan Mahesa Bareng Fiora

Awalnya aku memang membeli novel Ada Cinta di Suaka Paksi karena penasaran setelah membaca ulasan di blog Kak Annie Nugraha.
Namun setelah menutup halaman terakhirnya, aku merasa mendapatkan lebih dari sekadar kisah cinta.
Aku jadi menemukan cerita tentang hubungan manusia dengan alam, dunia konservasi burung yang menarik untuk dikenali, serta tokoh-tokoh yang tumbuh bersama perjalanan hidup mereka masing-masing.
Kalau kalian juga menyukai novel romance dengan latar yang kuat, penuh detail, dan mampu bikin pembaca tenggelam ke dalam dunianya. Aku pikir novel Ada Cinta di Suaka Paksi layak masuk ke daftar bacaan kalian buat self healing di akhir pekan.
Siapa tahu, seperti yang kualami, kalian juga akan selesai membaca novel ini sambil merasa kayak baru saja ikut melepas-liarkan Aruna dan Mahesa bareng Fiora.
Baca juga review novel lainnya yang sudah kubagikan! Kalau kalian pingin beli novel Ada Cinta di Suaka Paksi, klik aja judul yang sudah tersemat link di sini ya!