Belajar Menikmati Hidup Tanpa Harus Membandingkan Diri dengan Orang Lain

Ada masanya di mana aku tuh merasa iri (minimal pinginlah) hidup kayak teman-teman sebayaku. Menikah, punya anak, dan hidup bahagia bareng keluarga kecil.

Sementara hidupku? Masih begini-begini saja. Sibuk ke sana kemari. Penghasilan nggak menentu. Belum punya pasangan halal. Masih stuck dalam lingkungan keluarga yang nggak sehat versiku.

Nganu. Aku bukannya nggak ikutan bahagia melihat kebahagiaan mereka.

Ya elah. Melihat teman bisa menemukan pasangan hidup mereka, masa iya aku nggak senang? Jangan ngadi-ngadi kalian, Teman Journaling-nya aku.

Cuma begini, bohong sih kalau kubilang nggak pernah menclok pertanyaan di otak soal kapan waktu giliranku menemukan belahan jiwaku.

Ya gimana. Aku ‘kan tinggalnya di Madura. Meski sekarang aku sudah merasa biasa saja sama pertanyaan seputar mana pacarnya? Kapan nyebar undangan? Kapan nyusul?

Belum lagi omongan soal teman-teman sebayaku (bahkan sekarang adik-adikku) sudah pada punya anak. Huft.

Semua itu sempat pernah bikin aku merasa nelongso. Rendah diri. Masa iya, aku se-nggak berharga itu sampai nggak nemu-nemu pasangan yang cocok?

Ini baru soal pasangan ya. Belum ke hal lain. Penghasilan misalnya.

Boro-boro kebeli mobil. Motorku wae masih kredit lho, Teman Journaling-nya Aku.

Padahal sebenarnya aku menyadari kalau hidup ‘kan bukan perlombaan ya. Nggak ada garis finish-nya. Jadi, nggak perlu merasa tertinggal.

Mengapa Kita Sering Membandingkan Diri dengan Orang Lain?

kenapa suka membandingkan diri dengan orang lain
disengaja atau nggak, kadang kita memang suka membandingkan diri dengan orang lain

 

Sebenarnya, nggak ada yang salah sama membandingkan diri dengan kehidupan orang lain. Manusiawilah itu. Cuma harus ada batasannya.

Teman Journaling-nya Aku bisa jadikan kehidupan orang lain sebagai beberapa hal, seperti:

  • Penyemangat atau motivasi biar terus mau belajar dan berusaha untuk meningkatkan kehidupan diri sendiri.
  • Cermin atau pelajaran biar punya kendali dan nggak jatuh ke hal yang merugikan.
  • Pengingat untuk selalu bersyukur.

Intinya, jangan malah jadikan kehidupan orang lain jadi sesuatu yang bikin kita merasa kurang beruntung.

Untuk menjawab pertanyaan kenapa kita sering membandingkan dengan kehidupan orang lain, aku mungkin punya beberapa penyebabnya, antara lain:

  1. Pengaruh media sosial. Kayaknya semua orang asyik membagikan momen bahagia mereka di media sosial. Kadang, kitanya nggak sengaja melihat saat postingan itu muncul di timeline.
  2. Mencari tolok ukur. Nggak punya standar sendiri untuk menilai kesuksesan. Makanya, cari pembanding di orang lain.
  3. Kebutuhan validasi. Apakah pencapaianku sudah berada di jalur yang tepat?
  4. Kurangnya rasa percaya diri. Biasanya, aku akan mulai membandingkan dengan orang lain saat nggak puas sama pencapaianku sendiri.

Tapi, coba Teman Journaling-nya Aku pikirkan! Kehidupan orang lain yang menyenangkan di mata kita hanyalah satu dari sekian masalah yang orang lain hadapi.

Dalam artian, mereka hanya menunjukkan bagian happy-happy saja. Kecuali yang memang ingin viral karena penderitaan, mana ada sih yang mau menunjukkan kegagalan?

Mungkin ada. Tapi ‘kan nggak banyak ya. Sedikit banget malah yang mau menjadikan kegagalannya sebagai media pembelajaran untuk orang lain.

Belajar Memahami Kalau Setiap Orang Punya Timeline Kehidupan Sendiri

Saat ini, aku mungkin masih sendiri. Sementara, teman-teman sebayaku sudah bahagia bersama keluarganya. Bagiku ya nggak masalah.

Related Post  5 Alasan Seorang Takut Menikah, Mungkin Kamu Mengalaminya?

Urusan finansial juga. Bisa jadi aku masih tertatih-tatih melangkah menuju financial freedom. Sedangkan teman sebayaku yang lain sudah punya kehidupan yang mentereng.

Rumahnya sudah atas nama pribadi. Kemana-mana naik mobil. Nggak perlu kepanasan atau kehujanan.

Ya udah lah ya. Setiap orang punya perjalanannya sendiri. Gimana usaha mereka juga hanya mereka yang tahu persis segimana beratnya.

Lagian, hal-hal yang memengaruhi gimana seseorang menjalani dan mendapat pencapaian dalam kehidupannya bukanlah usia, tapi:

  • Kondisi keluarga,
  • Peka sama kesempatan,
  • Lingkungan,
  • Kemampuan finansial keluarga,
  • Pilihan hidup.
  • Tekad untuk terus berkembang.

Kalau begitu ceritanya, bukannya nggak adil misal kita terus-menerus membandingkan pencapaian diri sendiri dengan orang lain ya? Apalagi kalau cuma berdasarkan dari apa yang terlihat.

Emang sih, kita boleh punya impian dan target hidup yang seheboh mungkin. Tapi, pastikan semua keinginan itu nggak berubah jadi tekanan hanya karena ingin segera menyamai pencapaian orang lain.

Sesekali boleh deh berhenti sejenak untuk melihat sudah sejauh mana kita melangkah. Siapa tahu ‘kan ternyata kita sudah melewati banyak hal baik yang luput dari perhatian karena saking sibuknya melihat kehidupan orang lain.

Oh iya, kalian bisa baca ceritaku tentang alasan seseorang takut menikah dulu!

Cara Sederhana Menikmati Hidup Tanpa Membandingkan Diri dengan Orang Lain

Teman Journaling-nya Aku pikir memahami setiap orang punya timeline masing-masing bikin kita langsung berhenti membandingkan diri dengan orang lain?

Belum tentu. Pasti ada satu masa yang memicu perasaan itu muncul. Khususnya, saat melihat orang lain mendapatkan sesuatu yang selama ini kita idam-idamkan.

Terus gimana dong?

Aku ada beberapa cara menikmati hidup tanpa membandingkan dengan kehidupan orang lain, seperti:

1. Kurangi Kebiasaan Mengintip Kehidupan Orang Lain

Aku tuh nggak lagi menyarankan kalian untuk berhenti pakai media sosial. Mau gimana juga, media sosial sudah jadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Toh aku tetap bisa merasakan manfaat lainnya selain mengintip kehidupan orang. Bisa cari informasi, hiburan, mempromosikan tulisan di blog, dan belakangan juga bisa jadi ladang cuan juga lho.

Cuma memang, kita perlu mulai memperhatikan konten apa saja yang lewat.

Kalau setiap kali melihat unggahan seseorang justru bikin kita merasa minder, iri, atau mempertanyakan kehidupan sendiri. Mungkin sudah waktunya bagi kita untuk mengurangi kebiasaan melihat konten tersebut.

Gampang saja. Tinggal unfollow atau mute akun yang bikin pikiran terasa kurang nyaman. Anggap saja sebagai bentuk menjaga kesehatan pikiran sendiri.

Toh, kita nggak harus tahu semua hal yang terjadi dalam kehidupan orang lain ‘kan. Mending juga sibuk menjalani kehidupan sendiri ketimbang menghabiskan waktu mengamati pencapaian orang lain.

2. Hargai Setiap Pencapaian Kecil dalam Hidup Kita

Manusia tuh suka salah fokus. Kita sering meributkan sesuatu yang belum berhasil dicapai. Padahal, ada banyak hal (meski kecil) yang sudah kita miliki.

Mungkin hal itu kelihatan biasa saja. Nggak yang terlalu wah. Tapi, sekecil apapun itu, bukankah tetap saja namanya pencapaian ya? Punya proses dan perjuangannya sendiri.

Aku memang belum punya pasangan halal. Tapi, aku sudah berhasil memenuhi kebutuhan pribadiku sendiri. Bersenang-senang pakai uangku sendiri. Nggak menyusahkan orang tua.

Related Post  Berkenalan dengan Hantu Masa Lalu, It’s Call by Innerchild

Mungkin memang nggak sebesar pencapaian orang lain. Nggak sekaya orang lain yang sepantaran denganku. Tapi, aku juga berhak dong merasa bangga dengan apa saja yang sudah berhasil kulalui?

Anyway, menghargai setiap pencapaian yang sudah kita lalui, sekecil apapun itu, akan sangat membantu kita untuk melihat bahwa kehidupan sendiri sebenarnya juga punya hal menarik kayak orang-orang.

3. Fokus pada Hal yang Bisa Kita Kendalikan

menikmati hidup dengan fokus pada apa yang bisa kita kendalikan

Ada yang sudah kelar membaca buku Filosofi Teras karya Henry Manampiring? Coba dong share apa bagian yang membekas dari buku tersebut!

Kalau aku sih konsep dikotomi kendali dalam filosofi Stoisisme. Konsep yang mengajak kita untuk membedakan mana hal yang bisa kita kendalikan dan mana hal yang berada di luar kendali kita.

Mudahnya begini. Kita selalu bisa mengendalikan usaha, keputusan, sikap, dan cara merespons sesuatu. Sebaliknya, kita mana bisa mengendalikan pendapat orang lain, keputusan orang lain, ataupun gimana kehidupan seseorang berjalan.

Terus, ngapain kita masih sibuk membandingkan diri dengan orang lain? Padahal, kita nggak bisa mengatur kapan mereka akan menikah, seberapa cepat mereka akan dapat pekerjaan impian, atau kapan orang lain berhasil membeli rumah.

Kita juga nggak bisa memaksa kehidupan berjalan sesuai dengan jadwal yang sudah kita buat sendiri.

Tapi, kita selalu bisa mengendalikan apa yang ingin dilakukan untuk memperbaiki kehidupan.

Kalau memang ingin menikah, kita bisa mempersiapkan diri dan memperluas pergaulan. Mau punya penghasilan lebih baik, kita bisa belajar keterampilan baru atau mencari peluang pekerjaan tambahan.

Daripada menghabiskan energi untuk memikirkan pencapaian orang lain, bukannya lebih baik menggunakannya untuk sesuatu yang memang bisa kita usahakan?

Kalian bisa temukan ceritaku tentang review buku dulu ya!

4. Stop Memaksakan Diri Mengikuti Standar Orang Lain

Setiap orang punya definisi kehidupan yang ideal. Ada yang merasa bahagia saat punya pekerjaan dengan penghasilan besar. Ada yang lebih memilih pekerjaan sederhana tapi punya banyak waktu bersama keluarga. Suka hatilah ya.

Masalahnya, kadang kita terlalu sibuk mengikuti standar kehidupan orang lain sampai lupa bertanya kepada diri sendiri tentang apa yang sebenarnya kita inginkan.

Misalnya, kita ingin membeli mobil bukan karena benar-benar butu, tapi lebih karena merasa malu melihat teman-teman sudah pada punya. Rasanya gengsi datang ke reunian cuma pakai motor sementara yang lain pakai mobil.

Atau ingin segera menikah bukan karena sudah siap membangun rumah tangga. Tapi, karena lelah dapat pertanyaan kapan menyusul dari lingkungan sekitar.

Kalau alasannya hanya untuk memenuhi ekspektasi orang lain, mending pikirkan ulang deh.

Soalnya, pada akhirnya, kita sendiri yang akan menjalani kehidupan ini. Orang lain mungkin hanya melihat hasil akhirnya, tapi kita yang harus menghadapi konsekuensi dari setiap keputusan.

5. Nikmati Prosesnya Tanpa Pusing Memikirkan Hasil

Aku termasuk orang yang kadang terlalu banyak memikirkan hasil. Saat mengerjakan sesuatu, rasanya ingin segera melihat perkembangan dan mendapatkan hasil yang sesuai harapan.

Sayangnya, aku lupa satu hal. Kalau terus-terusan memikirkan hasil, mana bisa kita menikmati prosesnya?

Related Post  Aku Ingin Cerdas Mengelola Emosi agar Saat Inner Childku Kembali Aku tetap Happy

Padahal, di dunia ini nggak ada yang benar-benar instan. Semuanya membutuhkan waktu. Ada hal-hal yang memang nggak bisa dipaksakan untuk berhasil dalam waktu singkat.

Begitu juga dengan kehidupan. Kita boleh punya target menikah, punya rumah, meningkatkan penghasilan, atau mencapai karir tertentu. Tapi, bukan berarti kita stuck memikirkan kapan semua itu akan terwujud.

Sesekali, nikmati saja apa yang sedang dikerjakan hari ini. Belajar sesuatu yang baru, mengembangkan hobi, menghabiskan waktu bersama keluarga, membaca buku, atau melakukan kegiatan sederhana yang bikin hati lebih tenang.

6. Jangan Lupa Bersyukur

Saking sibuknya melihat kehidupan orang lain bikin kita lupa dengan kehidupan sendiri yang juga punya banyak hal menyenangkan.

Kenapa nggak coba buat mensyukuri hal-hal yang sudah ada dalam hidup kita saja?

Iya sih, aku memang belum menikah. Tapi, aku masih bisa main kesana-kemari tanpa harus ribet sama urusan anak.

Aku mungkin belum punya rumah sendiri. Tapi, aku masih punya tempat untuk pulang yang nyaman. Dan masih banyak lagi yang lainnya.

Buatku, bersyukur bisa jadi pengingat bahwa di tengah berbagai hal yang belum berhasil kucapai, masih ada banyak hal baik yang sudah hadir dalam kehidupanku.

Dengan begitu, aku bisa tetap punya keinginan untuk memperbaiki hidup tanpa harus terus-menerus merasa kekurangan.

Nggak Papa Jika Hidup Kita Berjalan Di Jalur dan Waktu Berbeda

Pada akhirnya, aku mulai paham bahwa menikmati hidup bukan berarti harus punya semua hal yang kuinginkan. Ada kalanya kita perlu menerima bahwa beberapa hal memang belum bisa terwujud sekarang.

Aku mungkin belum memiliki pasangan halal seperti sebagian besar teman sebayaku. Mereka mungkin sudah berhasil membangun rumah tangga, punya anak, atau mencapai sesuatu yang masih jadi impianku.

Tapi, bukan berarti kehidupanku sedang berjalan ke arah yang salah.

Ada banyak hal lain yang masih bisa aku nikmati dan syukuri. Aku juga masih punya kesempatan untuk belajar, mengembangkan diri, melakukan hal-hal yang kusukai, serta mempersiapkan kehidupan yang lebih baik.

Ogah banget menjadikan usia sebagai alasan untuk terus merasa tertinggal. Gimana ya, setiap orang ‘kan punya perjalanan dan waktunya masing-masing.

Kalau hari ini kita belum mendapatkan sesuatu yang diinginkan, nggak masalah. Toh, kita bukannya nggak akan pernah memilikinya ‘kan?

Terus, kalau orang lain sudah berhasil mencapai sesuatu, apa iya kita juga harus sampai ke sana juga? ‘Kan, nggak.

Jadi, mungkin sudah waktunya kita berhenti terlalu sibuk menghitung pencapaian orang lain. Sesekali, lihat kembali kehidupan sendiri. Hargai setiap prosesnya, syukuri hal-hal sederhana, dan tetap berusaha jadi pribadi yang lebih baik.

Soalnya, hidup bukan perlombaan untuk jadi lebih cepat atau lebih hebat daripada orang lain.

Kita hanya perlu menjalani kehidupan sendiri dengan sebaik-baiknya, tanpa harus terus-menerus merasa tertinggal dari kehidupan orang lain.

Segitu dulu tulisan kali ini ya, Teman Journaling-nya Aku. Sampai jumpa di tulisanku berikutnya!

Note: semua gambar dalam artikel ini dibuat menggunakan ChatGPT

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses