Menulis jurnal itu sulit. Kata orang yang sudah lama pingin journaling tapi nggak jelas kapan akan mulainya.
Nggak. Aku lagi nggak ngomongin kalian kok, Teman Journaling-nya Aku. Santai saja. Aku lagi membahas diriku sendiri.
Bayangin saja! Aku sudah beli agenda atau buku catatan custom, alat tulis yang proper, dan beberapa stiker lucu. Terus apa?
Eksekusinya nol besar. Katanya mau ngumpulin niat dulu. Entah ngumpulinnya di mana? Nggak terkumpul juga itu niatnya. Heran dah.
Ada yang samaan nggak sih?
Pingin Banget Journaling, tapi…
Bukannya apa ya. Hal yang menarik terbiasa saat menulis jurnal adalah kita bisa cek lagi tulisannya nanti-nanti.
Saat masanya sudah berlalu, membaca tulisan di masa lampau tuh mengundang nostalgia banget. Entah nanti merasa geli, kesal, atau emboh perasaan lainnya.
Tapi masalahnya, nggak semua orang yang pingin journaling lantas otomatis bisa menulis dengan lancar. Kebanyakan ya kayak aku.
Nggak jadi lagi. Nggak jadi lagi. Coba tebak apa alasanku?
Disclaimer: Semua alasan selalu gagal menulis jurnal meski sudah beli semua peralatannya yang kutulis di sini adalah milikku ya.
- Khawatir akan menuliskan sesuatu yang terlalu pribadi. Apalagi kalau itu sesuatu yang memalukan.
- Terlalu banyak melihat jurnal milik orang lain. Lalu minder sama kemampuan sendiri. Ntar kalau jurnalnya nggak bagus gimana?
- Akhirnya, aku nggak tahu harus menulis apa di jurnal. Formatnya gimana? Bingung sendiri jadinya.
Mungkin, kalian juga punya alasan sendiri untuk nggak menulis jurnal padahal pingin. Coba dong tulis di kolom komentar tentang apa alasan kalian!
Ide Format Menulis Jurnal dari Marshanda

Beberapa hari yang lalu, pas scrolling Instagram, lewat konten reels-nya Marshanda di berandaku.
Aku sih lumayan suka sama konten-kontennya. Rasanya, aku nggak pernah skip apapun yang doi bahas. Mau itu tentang keluarga, mental health, atau tips tentang journaling.
Kontennya tuh kayak emang membahas masalah-masalah yang biasa terjadi gitu deh. Pas nengokin komen-komen di setiap kontennya, ternyata ada banyak yang kayak aku. Related sama kontennya.
Kebetulan yang kemarin itu kontennya tentang ide format journaling. Marshanda menyadari kegundahan orang-orang yang kayak aku. Nggak tahu mau menulis apa di jurnal. Bingung sama rules-nya.
Fun fact, dalam journaling tuh nggak ada yang namanya rules. Kita bebas saja mau menulis tentang apa. Bikinnya gimana juga terserah kita.
Tapi, kalau emang bingung mau menulis apa. Ikutin saja ide format menulis jurnal dari Marshanda, sebagai berikut:
1. 10 Hal yang Kita Syukuri

Kita bisa menulis ini setiap hari. Entah itu pagi pas bangun tidur atau malam hari sebelum tidur.
Kupikir, iya juga ya. Nggak mungkin dong nggak ada hal yang kita syukuri dalam hidup.
Event sekedar bisa bangun di pagi hari juga sudah nikmat. Bernapas dengan baik tanpa bantuan selang oksigen. Bisa makan apapun dengan nyaman. Kurang apa lagi sih hidup kita?
Marshanda menambahkan gimana menuliskannya. Kita bisa bikin list dari nomor 1-10. Lalu, ke-10 list-nya bisa kita mulai dengan “Aku bersyukur karena …”
Cus mulai journaling dengan menuliskan 10 hal yang kalian syukuri!
2. Free Flow
Maksud dari Free Flow ini kita bisa menulis perasaan sampah yang nggak penting dalam sistem jiwa kita. Entah itu, yang bikin sakit hati, kemarahan pada seseorang yang nggak tersalurkan, atau apapun itu.
Tulis semuanya dengan penuh emosi di jurnal! Begitu sudah kelar, robek kertasnya dari buku jurnal. Lalu, robek lagi jadi serpihan-serpihan dan buang ke tempat sampah.
Marshanda bilang dengan begitu kita akan merasa kayak membuang semua emosi itu. Kemudian, kita bisa merasa release dan lega.
Sebenarnya, sahabatku pernah memberikan saran ini saat aku stres berat beberapa waktu lalu. Aku pun mengikuti saran itu. Meski nggak yang tuntas lega, tapi lumayan meringankan sih.
Menurutku, kalaupun kalian mau coba format menulis jurnal ini nggak masalah lho. Cukup worth it kok.
3. Menulis Tentang Kehidupan Ideal yang Kita Mau
Katakanlah, kita punya mimpi atau goal yang belum tercapai. Marshanda bilang kita bisa menuliskan mimpi atau goal tersebut di jurnal.
Tulis semuanya dengan sangat detail! Bila perlu sampai ke kondisinya gimana, kalau misalkan tentang rumah, rumahnya seperti apa. Catnya warna apa. Kita tinggal dengan siapa.
Kalau itu tentang pekerjaan atau bisnis. Mau bisnis yang gimana? Perlu sewa printer di Jogja atau nggak? Usahanya apa?
Usahakan sedetail mungkin ya. Tulis juga apa yang akan kita lakukan ketika mimpi atau goal itu sudah tercapai.
Kata Marshanda, ini juga bisa jadi praktik manifestasi yang cukup ampuh lho.
Yuk Mulai Menulis Jurnal!
Gimana? Sudah nggak bingung lagi ‘kan perkara mau menulis apa di jurnal?
Rasanya sudah nggak ya. Toh, ada ide format menulis jurnal dari Marshanda yang bisa kita coba. Mau pakai salah satunya boleh. Gaskeun menulis dengan semua format juga nggak masalah. Bebas.
Buat yang punya komunitas journaling atau apapun dan mau bikin acara. Kalian pasti butuh printer untuk ngeprint dokumen dan lain-lain.
Ketimbang cari pinjaman ke sana-kemari, mending rental printer Jogja saja.
Teman Journaling-nya Aku, yuk mulai menulis jurnal!
View this post on Instagram
Banyak yg nanya bagaimana supaya bisa (rajin/update) menulis? Seharusnya saya sodorkan tips dan artikel ini ya
Sudah cukup mewakili soalnya
Menulis memang sebagaimana disarankan Marshanda, dari yang terkecil, ringan dan sepele. Mau soal kekesalan, keberhasilan sampai liar bias. Semua itu catat saja
Lama lama semakin banyak jam terbangnya semakin bagus tata bahasa dan style nya akan ditemukan sendirinya ya
Selama ini baru nulis dengan format jurnal syukur, Kak. Mau coba format yang lain ah, makasih ceritanya. Dan memang kalau journaling lebih baik menulis dengan tangan ya untuk relaksasi, bukan diketik.
Baca paragraf awal langsung ketawa sendiri, beneran kesindir haha. Buku jurnal sama stiker udah numpuk estetik di meja, giliran mau nulis bingung sendiri mau mulai dari mana, ujung-ujungnya cuma diliatin doang. Padahal beberapa waktu lalu sempat semangat 45 untuk membuat jurnal, bahkan sampai gabung dalam komunitas jurnaling, ternyata istikamah itu memang tidak mudah he…he… Baiklah sepertinya memang harus mulai lagi ini.
Dulu dari SD sampe SMU aku nulis diary. Dan yg ditulis ya ttg apa yg terjadi di hari itu 😄. So, sebenernya ga susah memang menulis jurnal. Tulis aja sebebasnya, ttg apapun.
Cuma terkadang maleeeees 😂😅😅. Apalagi dengan banyaknya sistem digital. Sejujurnya aku jadi ga pernah nulis di jurnal manual lagi mba. Semua pindah ke blog, tp khusus yg curhat ga jelas, aku private. JD memang ga open for public.
Utk yg menulis, palingan aku sesekali tulis pas traveling. Isinya ya kuliner yg dicoba, rasanya kayak apa, harga, lokasi, tempat. So pas mau ditulis ke blog, jadi ga lupa.
Menuangkan khususnya perasaan sampah di jurnal, ada bagusnya juga sih ya, jadinya tuh kayak tersalurkan memang di tempatnya. Ketimbang perasaan sampah itu dibagikan ke medsos, yang ada malah cuma buka aib dan ga mendatangkan ketenangan, ya gak sih?
Ada banyak cara untuk mengekspresikan apa-apa yang ada di kepala dan hati kita, dan menulis jurnal adalah jalan ninja yang bisa kita lakukan untuk relief dan self healing. Kayanya ini juga yang dilakukan Marshanda ya, sehingga ia bisa berdamai dengan bipolar yang dialaminya. Salut dengan perjalanan menulis jurnalnya.
Sepakat sih yang kadang membuat kita maju mundur menulis jurnal itu karena belum apa-apa sudah membandingkan dengan jurnal orang lain yang kita anggap ciamik, Padahal belum tentu demikian ya, kenyataannya. Yang ada malah kita sedang mengkerdilkan diri sendiri sebelum memulai apa-apa.
Terima kasih Mbak Sri untuk pencerahannya yang terinspirasi dari Marshanda, saya sendiri sekarang jadi lebih paham apa-apa saja contoh yang bisa ditulis jika akan membuat jurnal ini. Tinggal eksekusi memulainya aja nih yang harus disegerakan
Hahahahaa, relate banget bagian ‘ngabisin duit beli sketchbook sama stiker lucu tapi ujung-ujungnya cuma dipajang’. Bakat hoardingnya kudu dibasmi dulu😂
Kebetulan lagi bingung mau mulai journaling dari mana, format free flow sama nulis 10 hal yang disyukuri dari Marshanda ini pas sih kayaknya buat dicoba. Thanks mbak Yun idenyaa.
journaling nggak harus serumit yang dibayangkan ya. Saya juga sering merasa harus punya tulisan yang bagus dan rapi dulu baru bisa mulai, padahal ternyata nggak ada aturan baku sama sekali. Dari tiga format ini, saya paling tertarik dengan 10 hal yang disyukuri dan free flow. Kelihatannya sederhana, tapi justru bisa jadi cara yang enak untuk lebih mengenal perasaan dan menghargai hal hal kecil dalam hidup. Jadi kepingin buka buku kosong dan mulai nulis tanpa banyak mikir lagi.
Menarik banget nih membahas ide buat journaling dan ternyata ada ide dari Marshanda juga. Wah ciamik pisan sih. Beneran deh, aku emang suka sempetin nulis 10 yang disyukuri tetapi bukan di buku jurnal khusus, masih sekenanya dimana aja. Hehehehe. Next time aku harus beli buku buat ngejournal dan pengen coba juga Free Flow, kayaknya bagus buat kurangi sampah-sampah nggak penting yang masih tersisa di hati serta pikiran ya.
Yuk lah semangat journaling. Pelan-pelan tetapi pasti. Makasih lho ide tema journaling nya.
Ternyata bnyk yg bs kita tulis di journal ya kak. Emg sih ga ada aturan baku buat nulis journal ini.
Kdg aku malah malu kl meluapkan suasana hati yg lagi marah, gundah hingga gelisah.
Biasanya cowok sih dipendam doank. Kyknya seru nih kalo dibikin journaling hal2 kecil gini. Selain buat terapi mental, bs bikin kita bakalan semangat lagi menata hari ya kak.
Mksh Marshanda yg udh ngasih ide journaling ini. Emg hal remeh gini hrs diabadikan sih.
Maksih kaak inspirasinya. Menulis jurnal itu memang menyenangkan dan memiliki manfaat yang sangat baik bagi kesehatan mental pada khususnya. menyalurkan sampah sampah emosi negatif melalui tulisan. Harus dirutinkan kembali niih jurnaling nya, apalagi sudha ada banyak ide dari tulisan kakak nii. Saya suka bo;ong bolong menulis jurnalnya
Kalau jurnalnya tidak dipublish, sama kyk masa2 kita menulis diary dulu sih menurutku nggak masalah tuliskan aja semua haha.
Tapi emang jujur aku kalau membaca catatan lawasku tu kek mau muntah sendiri, kok bisa aku se-alay itu di masa lalu wkwk.
Tapi ya diketawain aja, karena itu bagian dari masa lalu yang membuat kita berada di masa sekarang hehe 😀
Nah, bahkan Marshanda sendiri bilang sebaiknya tulis detail ya. Malah kalau bisa menurutku lengkapi dengan gambar atau foto sekalian hehe.
Yang menarik tu menulis kondisi ideal yang kita mau, itu kyk ke manifesting gitu yaa. Menarik nih buat dicoba 😀
Aku mau nulis jurnal aja ditunda-tunda terus. Bener cuma berakhir dengan ngumpulin buku jurnalnya aja hahahaha…
Kayanya dimulai dengan jurnal syukur menarik sih.
Kalau jurnalku itu banyak stikernya
Karena di sekitar stiker aku bisa nulis jawaban prompt yang aku mau sesuaka hati
Bahkan aku bisa menempel stiker saja tanpa tulisan
Ah senang pokoknya
Journaling emang lagi hype ya
Marshanda ini lulusan psikologi, jadi dia emang kadang sering share tentang mental health ya
Sekarang juga share tentang journaling
jurnaling ini banyak ya manfaatnya cuma aku masih belum konsisten nulis jurnalnya malah lebih sering nulis catatan kejadian di sebuah tanggal. Padahal pengen juga nulis jurnal syukur atau jurnal yang lebih terkonsep lainnya tapi kadang keburu malas atau ngerjain hal lain.
Berasa tertanggal karena golongan yang tarsok tarsok buat ngjurnal wkwkw.. tapi baca ini jadi ikutan pingin ngejurnal juga😍 Selama ini suka kepikiran mau mulai, tapi bingung harus nulis apa dan dari mana. Kalau udah ada guide gini jadi bisa sesederhana menuangkan isi hati dan kejadian sehari-hari ya Mba. Apalagi kalau ngejurnal bisa membantu kita lebih mengenal diri sendiri. Kayaknya seru juga punya catatan kecil untuk dibaca lagi nanti. .
Sama tuh dengan niat awalku buat blog gratisan ini. Pingin menulis jurnal makanya kukasi nama Dawiah’s Note. Walau kenyataannya tidak bisa juga nulis setiap waktu. Ada-ada saja kesibukan yg bikin terdistraksi dari menulis jurnal.
aku banget ini, beberapa tahun lalu, udah lama juga kejadiannya, saking pengennya nge-jurnal, aku beli lah yang namanya washi tape, sticker jurnal lucu-lucu, pokoknya yang gemes-gemes aku beli. Harapannya biar ngejurnalku makin semangat dan lucu kayak orang-orang.
Pas barang udah sampe, astagahh cuman bertahan bikin jurnal beberapa halaman aja, setelahnya malah sticker banyak nganggurnya, bahkan masih aku simpen.
Karena ya itu tadi, bingung mau nulis apaan, kalau nulis soal yang pribadi banget, takut dibaca orang lain
Sebenarnya menulis jurnal sefleksibel dan sesantai itu cuma kadang kitanya perlu duduk santai dulu baru bisa nulis itu. Kalo waktu santainya cuma bentar paling juga memilih untuk scrol sosmed doank menghibur diri. Padahal jurnal ini baik juga untuk kesehatan ya